Jumat, 28 Agustus 2026

Pantau Penyusunan DED SRRL Fase I-A, DJKA Tinjau Viaduk Gubeng hingga Depo Sidotopo

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) bersama Bank Pembangunan Jerman (KfW) dan PT KAI Daop 8 meninjau sejumlah titik yang menjadi fokus utama penyusunan DED, salah satunya stasiun Pasarturi, Jumat (28/8/2026). Foto: DJKA

Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) bersama Bank Pembangunan Jerman (KfW) dan PT KAI Daop 8 Surabaya terus mengawal penyusunan Detail Engineering Design (DED) proyek Surabaya Regional Railway Line (SRRL) Fase I-A agar berjalan sesuai rencana.

Pemantauan dilakukan melalui rangkaian agenda selama dua hari yakni, Kamis (27/8/2026) hingga Jumat (28/8/2026), yang mencakup kunjungan lapangan dan rapat koordinasi bulanan.

Pada Kamis pagi kemarin, tim melakukan kunjungan lapangan ke kawasan Lumpur Sidoarjo. Kemudian pukul 14.00 WIB, agenda dilanjutkan dengan RDC Monthly Meeting secara hibrida di salah satu hotel Surabaya.

Sedangkan Jumat pagi tadi, tepatnya pukul 09.00-11.00 WIB, DJKA bersama KfW, Chodai, dan PT KAI Daop 8 Surabaya meninjau sejumlah titik yang menjadi fokus utama penyusunan DED.

Lokasi yang dikunjungi meliputi Viaduk Gubeng atau Gubeng Heritage Bridge, area resettlement di Stasiun Pasarturi, serta calon Depo SRRL di Sidotopo.

Denny Michels Adlan Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Surabaya mengatakan, peninjauan dilakukan untuk memastikan desain yang disusun sesuai kebutuhan masyarakat maupun aspek teknis proyek.

“Ini semua untuk masyarakat Surabaya, Sidoarjo, dan Jawa Timur pada umumnya. Kami ingin agar nantinya SRRL ini benar-benar bermanfaat,” ujar Denny, Jumat.

Menurutnya, salah satu tantangan terdapat di Viaduk Gubeng, karena bangunan itu merupakan cagar budaya kategori BCB Tipe A.

“Seperti yang kita tahu ya, Viaduk Gubeng ini merupakan cagar budaya yang termasuk BCB Tipe A. Tentu tim DED dari Chodai harus menghitung betul bagaimana skenario-skenario yang mungkin bisa dilakukan. Termasuk bagaimana membangun SRRL tanpa melupakan preservasi bangunan bersejarah,” kata Denny.

Selain itu, kebutuhan teknis kereta listrik juga berbeda dengan kereta api reguler. Nantinya, jalur SRRL membutuhkan Listrik Aliran Atas (LAA) serta ruang bebas yang lebih besar.

“Nantinya harus ada Listrik Aliran Atas, harus ada ruang bebas lebih besar. Ini yang masih dikalkulasi oleh teman-teman di Chodai. Nah, kami bersama KfW ingin melihat langsung bagaimana studi yang mereka lakukan ini di kondisi riil-nya. Kami terus kawal proses ini tiap bulannya,” ujarnya.

Sementara untuk kawasan Sidotopo, DJKA juga membutuhkan koordinasi intensif dengan PT KAI karena lahan yang direncanakan menjadi Depo SRRL juga akan digunakan untuk pembangunan Depo Terpadu.

Denny menyebut sejauh ini tidak ada kendala berarti karena rencana pembangunan Depo SRRL dapat disinergikan dengan kebutuhan operator.

“Sejauh ini tidak ada masalah. Setelah solusi diberikan oleh Bapak Direktur Jenderal Perkeretaapian, Depo SRRL dapat disinergikan dengan rencana teman-teman operator. Ada beberapa opsi yang diberikan oleh Chodai dan semuanya baik,” pungkasnya.

SRRL Fase I-A merupakan proyek jaringan kereta rel listrik yang akan membentang dari Stasiun Sidotopo hingga Sidoarjo. Proyek ini merupakan kerja sama Kementerian Perhubungan, Kementerian Keuangan, dan KfW.

Dalam pengerjaannya, jalur Surabaya-Sidoarjo akan ditingkatkan menjadi jalur ganda dan dielektrifikasi. Proyek ini juga mencakup peningkatan lima stasiun serta pembangunan tiga flyover di Surabaya dan Sidoarjo. Saat ini, penyusunan DED proyek SRRL Fase I-A masih dikerjakan Chodai, konsultan asal Jepang. (bil)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Truk Patah As Tutup Satu Jalur Benowo Surabaya

Sebelum Terbenam

Surabaya
Jumat, 28 Agustus 2026
32o
Kurs