Sebelum dibawa keluar rumah sakit, limbah terlebih dahulu ditimbang dan dicatat dalam proses serah terima. Data itu menjadi bagian dari pencatatan jumlah limbah yang keluar dari rumah sakit.
Menurut Listyorini, pengawasan tidak berhenti setelah limbah masuk kendaraan pengangkut. Armada PT Wastatek dilengkapi GPS sehingga rumah sakit bisa memantau perjalanan kendaraan sejak meninggalkan RSUD Eka Candrarini sampai tiba di fasilitas pengolahan.
“Jadi terlacak setelah dari rumah sakit, keluar mampir ke mana mobil ini, berhenti kah, itu terlacak semua. Dan nanti di tempat pengolahannya juga, mereka akan melakukan pencatatan lagi. Nah, semua ini tercatat secara elektronik lewat sistem Fastronik. Jadi kita juga ada manifest-nya. Jadi kita juga bisa lihat misalnya hari ini berapa 7.000 kilo misalnya (yang diangkut). Nanti sampai di sana juga sekian, pemusnahannya kapan, seperti itu,” jelasnya.
Adapun nama RSUD Eka Candrarini sebelumnya ikut tercatut temuan limbah rumah sakit yang dibuang di exit Tol Tambak Sumur dari arah Bandara Juanda, Sidoarjo. Di antara limbah berupa jarum suntik itu, ditemukan pula sobekan kertas bertuliskan nama RSUD Eka Candrarini, dan kemudian viral.
Terkait hal ini, dr. Tyas menjelaskan bahwa sobekan kertas itu bukan wadah atau bagian dari sistem pengemasan limbah B3 rumah sakitnya. Kertas itu merupakan paper bag yang biasa digunakan pasien rawat jalan, untuk membawa obat setelah pulang dari rumah sakit.

NOW ON AIR SSFM 100

