Selasa, 21 April 2026

Kemenkes-BPOM Soroti Percepatan Inovasi Alkes dan Obat Berdasar Bahan Alam

Laporan oleh Iping Supingah
Bagikan
Benjamin Paulus Octavianus Wakil Menteri Kesehatan dan Taruna Ikrar Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Foto: Antara

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan perlunya penguatan dalam regulasi, percepatan inovasi kesehatan, serta pengembangan produk kesehatan dalam negeri.

Salah satu pengembangan produk kesehatan yang perlu menjadi perhatian adalah Interferon-Gamma Release Assay (IGRA) untuk deteksi tuberkulosis.

Dilansir dari Antara, data Kemenkes mencatat kasus tuberkulosis di Indonesia masih sangat tinggi, dengan jumlah sebanyak 867.000 kasus dalam satu tahun terakhir.

“Kalau kita bisa bikin harga tes IGRA dari 1 juta menjadi hanya sekitar 50 ribu, dampaknya terhadap keuangan negara akan sangat besar,” ujar Benjamin Paulus Octavianus Wakil Menteri Kesehatan, Selasa (21/4/2026).

Efisiensi dan pengawalan lintas sektor dalam pengembangan teknologi kesehatan menjadi hal yang penting terutama pada aspek diagnostik, termasuk IGRA atau tes darah untuk mendeteksi infeksi tuberkulosis.

“Saya minta tolong nanti kita kawal bersama supaya tes IGRA ini mendapatkan atensi karena ini sangat penting untuk percepatan penanggulangan TBC di Indonesia,” ungkapnya.

Dalam kesempatan itu, Wamenkes serta perwakilan industri mengamati proses di BPOM yang dinilai semakin tangkas, responsif, dan proses yang sebelumnya sempat terkendala kini menjadi lebih lancar.

Di sisi lain, BPOM turut memacu pengembangan obat berdasar bahan alam untuk mendukung kemandirian sektor kesehatan nasional lewat riset dan hilirisasi.

“Kalau negara punya produk sendiri, kenapa kita tidak memanfaatkannya? Dengan sumber daya yang kita miliki, seharusnya Indonesia bisa menghasilkan solusi kesehatan sendiri,” kata Taruna Ikrar Kepala BPOM.

Taruna mengungkapkan penguatan industri farmasi nasional dapat dilakukan melalui peningkatan nilai tambah dengan memanfaatkan potensi ekonomi bahan alam Indonesia yang mencapai ratusan triliun rupiah setiap tahun.

“Kita ingin naikkan statusnya, bukan sekadar obat bahan alam atau obat herbal terstandar, tetapi menjadi produk farmasi yang bernilai lebih tinggi,” ungkapnya.

Ia mengatakan bahwa dari 40.000 spesies tumbuhan di dunia, sekitar 31.000 spesies ada di Indonesia dan berpotensi menjadi bahan baku obat herbal.

Peran BPOM kemudian tercerminkan dengan memastikan setiap inovasi telah memenuhi aspek keamanan, khasiat, dan mutu sebelum dapat dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat. (ant/vve/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Perbaikan Pipa PDAM Bocor di Jemursari

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Surabaya
Selasa, 21 April 2026
33o
Kurs