Selasa, 16 Juni 2026

Kurangi Impor Bahan Baku Obat, BPOM Gandeng Ubaya untuk Hilirisasi Riset

Laporan oleh Risky Pratama
Bagikan
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI dan Universitas Surabaya (Ubaya) menyepakati kerja sama untuk hilirisasi riset pangan dan obat, di Ubaya, pada Senin (15/6/2026). Foto: Risky suarasurabaya.net

Taruna Ikrar Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM)RI menyoroti masih tingginya ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku obat impor. Saat ini menurutnya, hanya sekitar 6 persen bahan baku obat yang mampu diproduksi di dalam negeri.

“Saat ini, hanya enam persen bahan baku obat yang dapat diproduksi di dalam negeri dengan populasi manusia terbesar keempat di dunia yang membutuhkan jumlah obat yang besar,” katanya dalam kuliah umum dan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Universitas Surabaya (Ubaya), Senin (15/6/2026).

Dia menilai, hilirisasi riset menjadi kunci agar Indonesia tidak terus bergantung pada impor. Terutama di sektor obat, pangan, suplemen kesehatan, kosmetik, dan obat bahan alam.

“Dengan kondisi dinamika geopolitik global yang rentan, hilirisasi menjadi semakin penting. Hal ini mungkin untuk dicapai karena kita memiliki kekayaan biodiversitas kedua terbesar di dunia,” ucapnya.

Taruna juga menyebut bahwa tantangan terbesar bukan hanya menghasilkan riset di laboratorium, tetapi memastikan inovasi itu bisa lolos regulasi, diproduksi industri, dan benar-benar sampai ke masyarakat.

Oleh karena itu, BPOM mendorong ekosistem kolaboratif antara kampus, industri, dan pemerintah atau model ABG (Academia, Business, Government).

“Melalui Tri Dharma Perguruan Tinggi, riset dan inovasi diwadahi oleh dan dikembangkan melalui universitas. Hasil riset kemudian disuguhkan kepada industri yang patuh regulasi yang dapat memberikan dukungan agar ide berkembang dan dapat dikomersialisasi. Pemerintah, dalam hal ini BPOM bertindak sebagai regulator agar inovasi dan riset dapat dihadirkan di pasar berupa pemikiran, inisiatif, ataupun komoditas obat dan makanan,” jelasnya.

Benny Lianto Rektor Ubaya mengatakan bahwa kolaborasi itu merupakan langkah strategis untuk mempercepat hilirisasi riset kampus menuju pasar dan masyarakat.

“Ubaya juga menyadari betul bahwa riset-riset hebat tidak boleh berhenti hanya sampai laporan penelitian dan artikel publikasi. Riset harus diarahkan pada hilirisasi, menjadi produk nyata yang diadopsi industri, mampu memasuki pasar, dan yang terpenting membawa manfaat nyata bagi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Kerja sama itu, kata dia, menjadi kelanjutan kolaborasi yang sebelumnya telah terjalin antara Ubaya, khususnya melalui Pusat Unggulan Iptek Produk Pangan dan Suplemen Kesehatan untuk Kondisi Degeneratif (PUI Pasdeg), dengan Balai Besar POM Surabaya.

MoU tersebut menurutnya, juga akan menjadi landasan berbagai program kolaborasi selama lima tahun ke depan, dengan melibatkan sejumlah fakultas dan unit di kampus bersama BPOM RI serta BBPOM Surabaya.(ris/saf/rid)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Sepeda Motor Terbakar di Genteng Besar

Pelangi Diujung Pagi Surabaya

Mobil Masuk Saluran Air

Perjalanan Menuju Arafah

Surabaya
Selasa, 16 Juni 2026
27o
Kurs