Densitas yang lebih tinggi, kata dia, menyebabkan peningkatan massa bahan bakar yang terinjeksi dalam sistem berbasis volumetrik. Peningkatan tersebut berpotensi menimbulkan over-fueling dan perubahan karakter pembakaran. Sementara itu, viskositas yang lebih tinggi menyebabkan atomisasi bahan bakar menjadi kurang optimal.
“Hal itu akan menghasilkan ukuran droplet yang lebih besar dan penyebaran partikel tidak homogen,” terang ahli teknik pembakaran dan bahan bakar tersebut.
Lebih lanjut, Bambang juga menjelaskan bahwa dalam teknisnya, kondisi itu menurunkan kualitas pencampuran bahan bakar dan udara. Selain itu, juga bisa memperlambat evaporasi, serta meningkatkan kecenderungan terbentuknya zona rich mixture yang menjadi sumber pembentukan deposit dan emisi partikulat.
Di samping hal itu, sifat higroskopis biodiesel menjadi faktor kritis dalam implementasi B50. Biodiesel memiliki kecenderungan menyerap air dari lingkungan, baik selama penyimpanan maupun distribusi. Kandungan air dalam bahan bakar tidak hanya menurunkan kualitas pembakaran, tetapi juga menciptakan kondisi ideal bagi pertumbuhan mikroorganisme seperti bakteri dan jamur.
Pertumbuhan mikroorganisme itu, lanjut dia, dapat berkembang pada antarmuka air dan bahan bakar. Selain itu, juga akan menghasilkan biofilm dan senyawa asam yang menyebabkan korosi, penyumbatan filter, serta degradasi kualitas bahan bakar.

NOW ON AIR SSFM 100

