“Nantinya harus ada Listrik Aliran Atas, harus ada ruang bebas lebih besar. Ini yang masih dikalkulasi oleh teman-teman di Chodai. Nah, kami bersama KfW ingin melihat langsung bagaimana studi yang mereka lakukan ini di kondisi riil-nya. Kami terus kawal proses ini tiap bulannya,” ujarnya.
Sementara untuk kawasan Sidotopo, DJKA juga membutuhkan koordinasi intensif dengan PT KAI karena lahan yang direncanakan menjadi Depo SRRL juga akan digunakan untuk pembangunan Depo Terpadu.
Denny menyebut sejauh ini tidak ada kendala berarti karena rencana pembangunan Depo SRRL dapat disinergikan dengan kebutuhan operator.
“Sejauh ini tidak ada masalah. Setelah solusi diberikan oleh Bapak Direktur Jenderal Perkeretaapian, Depo SRRL dapat disinergikan dengan rencana teman-teman operator. Ada beberapa opsi yang diberikan oleh Chodai dan semuanya baik,” pungkasnya.
SRRL Fase I-A merupakan proyek jaringan kereta rel listrik yang akan membentang dari Stasiun Sidotopo hingga Sidoarjo. Proyek ini merupakan kerja sama Kementerian Perhubungan, Kementerian Keuangan, dan KfW.
Dalam pengerjaannya, jalur Surabaya-Sidoarjo akan ditingkatkan menjadi jalur ganda dan dielektrifikasi. Proyek ini juga mencakup peningkatan lima stasiun serta pembangunan tiga flyover di Surabaya dan Sidoarjo. Saat ini, penyusunan DED proyek SRRL Fase I-A masih dikerjakan Chodai, konsultan asal Jepang. (bil)

NOW ON AIR SSFM 100

