Santri yang tidak menjadi penerima manfaat juga dapat menjadi pertimbangan dalam distribusi makanan kepada masyarakat sekitar.
“Kalau seandainya tidak dibatasi, taruhlah seperti santri di pondok ini yang aktif sekolah akan sedikit seribuan. Yang enggak aktif kan tidak mendapatkan manfaat. Nah itu nanti dibagi-bagi pada tetangga-tetangga yang masak dan yang akan dapat rezeki untuk masakan anak-anak santri,” katanya.
Jika usulan tersebut disetujui pemerintah, Gus Wahid berharap pengelolaan MBG di pesantren dapat dilakukan langsung di bawah yayasan.
“Jikalau di-ACC,” jawabnya ketika ditanya mengenai kemungkinan pengelolaan MBG langsung oleh yayasan.
Ia menilai pesantren memiliki pengalaman panjang dalam mengelola kebutuhan makanan para santri secara mandiri.








