Kamis, 18 Agustus 2022

Mantan Presiden Rusia: Menghukum Negara Nuklir akan Bahayakan Umat Manusia

Laporan oleh Wildan Pratama
Bagikan
Sejumlah bangkai mobil di Mariupol, Ukraina dampak invasi militer Rusia (23/3/2022). Foto: Antara

Dmitry Medvedev Mantan Presiden Rusia mengatakan bahwa upaya Barat untuk menghukum negara nuklir seperti Rusia sama dengan membahayakan umat manusia.

Invasi Rusia di Ukraina pada 24 Februari 2022 lalu, telah memicu krisis terparah dalam hubungan Rusia-Barat sejak krisis rudal Kuba pada 1962, ketika dunia dikhawatirkan bakal dilanda perang nuklir.

Invasi Rusia sejak lima bulan lalu, kemudian membuat Joe Biden Presiden AS menilai bahwa Vladimir Putin Presiden Rusia merupakan penjahat perang. Negara-negara Barat pimpinan AS telah mempersenjatai Ukraina dan menjatuhkan berbagai sanksi pada Rusia.

“Gagasan untuk menghukum salah satu negara nuklir terbesar adalah hal yang absurd. Dan berpotensi mengancam keberadaan manusia,” kata Medvedev, yang kini menjabat wakil ketua Dewan Keamanan Rusia, Kamis (7/7/2022) mengutip Antara.

Sekedar diketahui, kata Federasi Ilmuwan Amerika Rusia dan Amerika Serikat menguasai sekitar 90 persen senjata nuklir di dunia, masing-masing memiliki sekitar 4.000 hulu ledak.

Medvedev melanjutkan, kata dia AS adalah kerajaan yang menumpahkan darah di seluruh dunia, sambil menyebutkan pembunuhan terhadap penduduk asli Amerika, serangan nuklir AS di Jepang dan berbagai perang mulai dari Vietnam hingga Afghanistan.

Dia mengatakan upaya menggunakan pengadilan internasional untuk menyelidiki aksi Rusia di Ukraina akan sia-sia dan berisiko memicu kerusakan global.

Akibat perang yang berlangsung selama berbulan-bulan itu, Ukraina dan sekutunya di Barat mengatakan pasukan Rusia telah melakukan kejahatan perang.

Mereka juga mengatakan Rusia berusaha merebut wilayah negara lain seperti kekaisaran, yang menyulut konflik terbesar di Eropa sejak Perang Dunia Kedua.

Selanjutnya, Putin mengeklaim telah meraih kemenangan terbesar setelah tentara Ukraina ditarik mundur dari wilayah Luhansk. Pasukan Rusia kemudian melancarkan serangan untuk merebut wilayah sebelahnya yaitu Donetsk.

Luhansk dan Donetsk adalah dua wilayah yang membentuk Donbas, target utama pasukan Rusia sejak gagal merebut ibu kota Kiev di awal invasi.(ant/wld/rst)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Langit Sore di Grand Pakuwon

Suatu Sore di Sembayat Gresik

Sore yang Macet di Raya Nginden

Peserta Pawai Taaruf YPM Sidoarjo di Sepanjang

Surabaya
Kamis, 18 Agustus 2022
26o
Kurs