Pada titik itu, korban yang sudah percaya kepada pelaku pertama cenderung menganggap permintaan tersebut benar. Korban kemudian diarahkan untuk mentransfer sejumlah uang.
Menurut Sodik, pelaku bahkan dapat membentuk jaringan dengan membagi peran. Ada pihak yang bertugas mendekati korban, sementara pelaku lain berperan sebagai petugas logistik atau administrator untuk meyakinkan korban agar melakukan pembayaran.
Perkembangan teknologi juga membuat jaringan love scam semakin kompleks. Sodik mengatakan polisi menemukan penggunaan berbagai sarana digital untuk mencari dan menganalisis calon korban.
Pelaku disebut memanfaatkan layanan seperti WhatsApp Sniper untuk mendapatkan target, kemudian menganalisis profil calon korban. Salah satu informasi yang dicari adalah kemampuan finansial target.
“Setelah mendapatkan target, mereka analisis. Orang yang menjadi target ini punya duit atau tidak?” ujar Sodik.

NOW ON AIR SSFM 100

