Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Pegasus yang dikembangkan NSO Group dan Predator yang dikaitkan dengan Cytrox menjadi contoh perangkat pengintai dengan kemampuan tersebut. Jika berhasil menguasai perangkat, spyware dapat mengakses berbagai informasi pribadi, termasuk percakapan, kamera, mikrofon, hingga lokasi pengguna.
Kemampuan tersebut menjadi semakin mengkhawatirkan ketika teknologi pengintai berpotensi menyasar orang-orang yang memiliki peran penting dalam kehidupan publik, seperti jurnalis, aktivis hak asasi manusia, advokat, dan akademisi.
Bagi jurnalis, misalnya, pengawasan terhadap komunikasi digital dapat membahayakan kerahasiaan narasumber, terutama dalam peliputan investigatif. Jika identitas narasumber mudah diketahui, masyarakat bisa enggan memberikan informasi kepada pers. Kondisi tersebut menurutnya berpotensi mengganggu fungsi media dalam mengawasi kepentingan publik.
Ancaman serupa juga berlaku bagi advokat yang membutuhkan komunikasi rahasia dengan klien untuk menyusun pembelaan. Jika komunikasi tersebut diakses tanpa hak, kerahasiaan hubungan advokat dan klien dapat terganggu dan berpotensi memengaruhi proses penegakan keadilan.
Lebih jauh, pengawasan digital tanpa batas menurutnya juga bisa membuat masyarakat takut menyampaikan kritik maupun pendapat. Ia mengatakan, situasi itu dikenal sebagai chilling effect, yaitu kondisi ketika seseorang membatasi kebebasan berekspresi karena khawatir aktivitasnya dipantau atau menimbulkan konsekuensi tertentu.
NOW ON AIR SSFM 100

